Bagaimana Laut Sawu Menjadi KKL

Maret 13, 2009

1. Apakah Kawasan Konservasi Laut?

IUCN – The Conservation Union, mendefinisikan kawasan konservasi laut sebagai suatu area atau daerah di kawasan pasang surut beserta kolom air di atasnya dan flora dan fauna serta lingkungan budaya dan sejarah yang ada di dalamnya, yang diayomi oleh undang-undang untuk melindungi sebagian atau seluruh lingkungan yang tertutup. Kawasan Konservasi Laut yang menjadi salah satu program perlindungan alam di Indonesia, dimaksudkan untuk mengelola sumber daya yang terdapat didalamnya secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan sosial, ekonomi dan ekologi untuk seluruh masyarakat, baik yang hidup di dalam maupun di sekitar kawasan konservasi, untuk pemanfaatannya dalam jangka yang panjang.

2. Kenapa di Laut Sawu harus ada KKL?

Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Laut Sawu terletak di dalam wilayah Segi Tiga Terumbu Karang (the Coral Triangle) yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, merupakan rumah bagi beragam habitat penting seperti Dugong, tempat peneluran penyu, dan koridor ruaya (migratory corridor) bagi 14 spesies Paus, termasuk jenis-jenis yang jarang dijumpai seperti Paus Biru dan Paus Sperma. Lebih dari 65% potensi lestari sumber daya ikan NTT disumbang oleh Laut Sawu. Jumlah nelayan di Provinsi NTT 110.202 orang dan jumlah desa pantai sebanyak 644 desa. Sumber daya perikanan yang ada meliputi ikan pelagis besar (Tuna, Cakalang, Paruh Panjang, Tongkol, Tengiri), Pelagis kecil, domersal, udang, cumi-cumi dan ikan karang. Selain itu terdapat budidaya Rumput Laut yang menjadi primadona masyarakat nelayan, Kerapu, Kakap dan Teripang. KKPN Laut Sawu sangat penting untuk melindungi kehidupan (livelihood) masyarakat NTT dan kawasan-kawasan lain. Dengan banyaknya jumlah masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada laut, pengelolaan sumber daya laut yang berimbang dan berkelanjutan menjadi faktor utama yang akan menjamin kesejahteraan masyarakat hingga generasi-generasi selanjutnya.

3. Siapa saja yang terlibat dalam KKPN Laut Sawu?

KKPN Laut Sawu adalah program kerjasama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Departemen Kelautan dan Perikanan di tingkat pusat, Provinsi dan Kabupaten, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Alor, Kabupaten Lembata, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. SK Gubernur NTT no. 190/HK/2006 menetapkan dibentuknya Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut (PPKKL) Laut Sawu. Tim PPKKL terdiri dari perwakilan DKP Provinsi NTT, BAPPEDA Provinsi, BBKSDA, BKKPN, DISBUDPAR Provinsi. Tim PPKKL bekerjasama dengan Proyek Pengembangan Kawasan konservasi Perairan Nasional Laut Sawu WWF-TNC melaksanakan berbagai kajian dan analisis untuk menentukan bentuk pengelolaan terbaik bagi kawasan tersebut.

4. Apa saja yang telah dilakukan dalam proses penetapan KKPN Laut Sawu?

  • Audiensi dengan Wakil Gubernur NTT, tanggal 17 September 2008 yang diikuti oleh DKP Provinsi, Bappeda Provinsi, Tim PPKKL, WWF-Solar dan TNC.
  • Lokakarya Pemantapan Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Sawu, tanggal 29-30 Januari 2009,
  • Pelatihan Jejaring Kawasan Konservasi Laut dan Perencanaan Aksi Konservasi di Laut Sawu, tanggal 23-28 Pebruari 2009, diikuti oleh perwakilan dari 13 kabupaten/kota

5. Apakah dengan adanya KKPN Laut Sawu membatasi aktivitas penangkapan ikan didalam kawasan?

Pembentukan suatu Kawasan Konservasi Perairan akan membantu mengatur agar aktivitas penangkapan ikan bisa dilakukan dengan tetap menjamin jumlah sumber daya terjaga. Fungsi-fungsi ekologis, sosial dan budaya merupakan rujukan untuk menyusun dan mengatur tata ruang dan pemanfaatan sumber daya. Habitat-habitat penting bagi proses-proses ekologis seperti reproduksi ikan akan terjaga, sehingga kelimpahan ikan akan mengisi kawasan disekitarnya, yang memungkinkan aktivitas penangkapan ikan dilakukan secara berkelanjutan. Penetapan KKL bukan untuk menutup kawasan tersebut, agar tidak dapat dimanfaatkan atau disentuh oleh siapapun. Akan tetapi bertujuan untuk mengelola ekosistem yang berada di kawasan tersebut secara berkelanjutan sehingga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

6. Apakah didalam KKPN Laut Sawu tidak diperbolehkan adanya penangkapan paus secara tradisionil?

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menjunjung tinggi hak masyarakat untuk memiliki mata pencaharian serta menjalankan tradisi dan budaya mereka. Penangkapan paus merupakan tradisi masyarakat Lamalera yang telah berlangung ratusan tahun. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai komitmen tinggi untuk bersama masyarakat Lamalera menjamin agar tradisi tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur akan merumuskan kerangka cara pengelolaan sehingga kegiatan ini tetap bisa berlangsung secara lestari. Aktivitas penangkapan paus bisa dilakukan secara berkelanjutan bila didasarkan pada suatu kajian yang lengkap mengenai status populasi, proses ekologi dan kajian mengenai habitatnya. Praktisi lingkungan diseluruh dunia setiap tahun membahas hal ini ditingkat global, untuk memberikan data-data terbaru atas kondisi populasi paus, yang akan digunakan untuk menjadi dasar perhitungan besarnya sumber daya yang bisa dimanfaatkan, semata-mata untuk menjamin keberlanjutannya. Masyarakat yang tinggal di dalam kawasan Laut Sawu dapat menjadi narasumber yang baik sekali untuk membantu pemantauan aktivitas paus dan populasinya. Masyarakat Laut Sawu sebagai kelompok manusia yang berinteraksi langsung dengan paus, akan mampu memberikan data yang akurat mengenai jumlah populasi, aktivitas ekologi dan kajian mengenai habitat-habitat penting bagi paus.

KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL LAUT SAWU

Maret 11, 2009

Marine Protected Area (MPA) atau Kawasan Konservasi Laut menurut IUCN tahun 1988 didefinisikan sebagai sesuatu area atau daerah di kawasan pasang surut beserta kolom air di atasnya dan flora dan fauna serta lingkungan budaya dan sejarah yang ada di dalamnya, yang diayomi oleh undang-undang untuk melindungi sebagian atau seluruh lingkungan yang tertutup.
Laut Sawu terletak di belahan timur bentanglaut Sunda Kecil (Lesser Sunda Seascape) telah diusulkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sebagai suatu Kawasan Konservasi Perairan dengan luasan yang diusulkan mencapai 4,9 juta hektare. Laut Sawu merupakan rumah bagi beragam habitat penting dan koridor ruaya (migratory corridor) bagi 14 spesies Paus, termasuk jenis-jenis yang jarang dijumpai seperti Paus Biru dan Paus Sperma.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menjunjung tinggi hak masyarakat untuk memiliki mata pencaharian serta menjalankan tradisi dan budaya mereka. Penangkapan paus merupakan tradisi masyarakat Lamalera yang telah berlangung ratusan tahun. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai komitmen tinggi untuk bersama masyarakat Lamalera menjamin agar tradisi tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur akan merumuskan kerangka cara pengelolaan sehingga kegiatan ini tetap bisa berlangsung secara lestari.
Sebagai wujud nyata komitmen ini, maka pada tahun 2006 lalu, Gubernur Nusa Tenggara Timur telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Pembentukkan Tim Pengkajian Penetapan Kawasan Konservasi Laut (PPKKL) Laut Sawu, yang tujuannya antara lain Mengkaji perairan laut tersebut menjadi Kawasan Konservasi Laut dan merancang bentuk pengelolaan sedemikian rupa sehingga masyarakat di sekitar KKL Laut Sawu memperoleh manfaat yang besar untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Pembentukan suatu Kawasan Konservasi Perairan, bukan untuk menutup kawasan tersebut, agar tidak dapat dimanfaatkan atau disentuh oleh siapapun. Akan tetapi bertujuan untuk mengelola ekosistem yang berada di kawasan tersebut secara berkelanjutan sehingga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. (sambutan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Ir. Esthon L. Foenany, M.Si dalam acara “Pelatihan Jejaring Kawasan Konservasi Laut dan Perencanaan Aksi Konservasi di Laut Sawu, 23-28 Pebruari 2009).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.